BOMBANA – Masyarakat nelayan di Desa Mapila, Kecamatan Kabaena Utara, Kabupaten Bombana, mengeluhkan kelangkaan solar yang telah berlangsung lebih dari satu bulan terakhir.
Kelangkaan bahan bakar tersebut membuat aktivitas melaut para nelayan terganggu bahkan terhenti, karena solar menjadi kebutuhan utama untuk mengoperasikan perahu saat mencari ikan di laut.
Sejumlah nelayan di Pising mengaku kesulitan mendapatkan solar dalam beberapa pekan terakhir. Kalaupun tersedia, harganya melonjak jauh di atas harga normal dan sulit diperoleh.
“Ini solar tidak ada. Kalau ada harga mahal sampai tiga ratus ribu per jerigen,” keluh seorang nelayan kepada wartawan Senin (25/5/2026).
Sementara itu, Plt Kepala Desa Mapila, Andi Patawari, S.Sos., membenarkan kondisi kelangkaan BBM jenis solar di desa yang dipimpinnya.
“Iya, nelayan mengeluh dan kesulitan mendapatkan solar. Kalaupun ada, harganya sudah mahal dan barangnya juga jarang,” ungkapnya saat ditemui wartawan di Mapila.
Ia berharap pihak terkait segera memberikan perhatian dan solusi atas persoalan tersebut, mengingat mayoritas masyarakat di Desa Mapila menggantungkan hidup dari sektor perikanan.
“Warga saya sudah menyampaikan keluhan mereka kepada saya selaku kepala desa. Mereka butuh solar agar bisa melaut mencari nafkah,” tambahnya.
Diketahui, harga solar subsidi Pertamina saat ini sebesar Rp6.800 per liter. Dengan kapasitas satu jerigen sekitar 20 liter, maka harga normal solar subsidi seharusnya berada di kisaran Rp136 ribu per jerigen.
Namun di lapangan, nelayan mengaku harus membeli hingga Rp300 ribu per jerigen, itupun sulit diperoleh akibat kelangkaan pasokan. Kondisi tersebut membuat biaya operasional melaut meningkat tajam dan semakin memberatkan masyarakat pesisir.
Sebagian nelayan bahkan terpaksa mengurangi aktivitas melaut karena hasil tangkapan tidak lagi sebanding dengan biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan.
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan mengatasi kelangkaan solar di wilayah kepulauan Kabaena agar aktivitas ekonomi nelayan dapat kembali normal.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab kelangkaan solar di wilayah tersebut. (red)

















