“Warga Pongkalaero-Puununu Kembali Demo, Soroti Sengketa Lahan PT BBS/TBS”
Bombana, SastraNews.id – Sejumlah massa yang tergabung dalam Solidaritas Masyarakat Pongkalaero-Puununu Bersatu (SMPPB) kembali menggelar aksi unjuk rasa di Desa Pongkalaero, Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/9/2026).
Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 WITA itu menyoroti persoalan lahan masyarakat yang dikaitkan dengan aktivitas PT Bakti Bumi Sulawesi (BBS)/PT Teratai Bumi Sultra (TBS) di wilayah tersebut.
Massa awalnya menyampaikan aspirasi di Kantor Desa Pongkalaero. Setelah itu, warga bergerak menuju lokasi pembangunan jetty PT BBS/TBS. Di lokasi, massa memasang tenda sebagai bagian dari rangkaian aksi. Sejumlah aparat kepolisian juga terlihat melakukan pengamanan.

Di kesempatan itu, Penanggung Jawab Aksi, Mahfuz, SMPPB menyampaikan sejumlah tuntutan. Diantaranya meminta perusahaan memberikan ganti rugi yang adil dan transparan atas lahan yang mereka klaim terdampak.
Pihaknya juga mendesak penghentian sementara aktivitas pertambangan hingga seluruh persoalan dan sengketa lahan diselesaikan. Mereka meminta pemerintah dan pihak terkait terlibat langsung dalam proses penyelesaian.
Mahfudz menegaskan, pada prinsipnya masyarakat setempat tidak menolak investasi, namun meminta kegiatan investasi tetap menghormati hak masyarakat lokal.
“Masyarakat Desa Pongkalaero dan Desa Puununu tidak anti investasi, tetapi kami butuh investor yang menghargai hak-hak warga lokal,” tegasnya.
SMPPB juga meminta Pemerintah Kabupaten Bombana, Pemerintah Kecamatan Kabaena Selatan, Pemerintah Desa, BPD Desa Pongkalaero serta Polres Bombana hadir dalam penyelesaian persoalan tersebut.
Jika tuntutan tidak mendapat penyelesaian, pihaknya akan terus membangun solidaritas dan mempertimbangkan langkah lanjutan, termasuk pemboikotan aktivitas alat berat di wilayah izin usaha pertambangan PT BBS/TBS.
“Kami tidak akan mundur selangkah pun demi mempertahankan hak atas tanah warisan leluhur kami,” terangnya.
Aksi tersebut merupakan kelanjutan dari aspirasi warga yang sebelumnya juga disuarakan pada 20 Juli 2026. Hingga sore hari, warga masih bertahan di sekitar lokasi pembangunan jetty dengan mendirikan tenda.
Persoalan lahan antara masyarakat dan aktivitas PT BBS/TBS pun masih menjadi perhatian serius warga Pongkalaero dan Puununu, sembari menunggu langkah penyelesaian dari pihak perusahaan maupun pemerintah daerah. (Red)
















