Kendari, SastraNews.id – Upaya penyatuan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Sulawesi Tenggara menjadi fokus utama dalam rembuk ide yang digelar DPD KNPI Sultra di Kopi Kita, Sabtu (6/6/2026). Forum yang dihadiri Ketua Sekretaris dan bendahara (KSB), jajaran pengurus dan sejumlah tokoh pemuda tersebut membahas langkah-langkah strategis untuk mengakhiri fragmentasi organisasi yang selama ini terjadi serta mengembalikan peran KNPI sebagai rumah besar pemuda di Bumi Anoa.
Ketua DPD KNPI Sultra, Muhammad Amsar, mengatakan bahwa agenda penyatuan KNPI harus menjadi prioritas bersama seluruh elemen kepemudaan. Menurutnya, kondisi KNPI yang selama beberapa tahun terakhir hadir dalam berbagai versi telah berdampak pada melemahnya posisi organisasi sebagai representasi kekuatan pemuda di daerah.
Karena itu, kata mantan aktifis jebolan HMI ini, langkah awal yang akan dilakukan bukan langsung berbicara soal kepengurusan atau posisi organisasi, melainkan membangun komunikasi dan konsolidasi dengan seluruh Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang berhimpun dalam KNPI. “Kita ingin memulai dari fondasi yang benar. Tahap pertama adalah melakukan konsolidasi dan pendataan kembali seluruh OKP resmi yang ada di Sulawesi Tenggara. Semua harus dirangkul tanpa melihat latar belakang atau afiliasi kelompok mana pun. KNPI harus kembali menjadi rumah bersama,” cetus pria kelahiran Kabaena ini.

Menurutnya, penyatuan KNPI tidak bisa dilakukan secara sepihak. Namun dibutuhkan ruang dialog yang terbuka dan setara agar seluruh elemen kepemudaan merasa memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun organisasi. Setelah konsolidasi OKP dilakukan, langkah berikutnya adalah membangun silaturahmi dengan para tokoh pemuda dan sesepuh KNPI Sultra, termasuk para mantan ketua yang pernah memimpin organisasi tersebut.
Mantan ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Institut Agama IsIam Negeri (IAIN) Kendari ini menilai, pengalaman dan ketokohan para senior KNPI merupakan modal penting dalam proses rekonsiliasi organisasi. Karena itu, masukan dan pandangan mereka sangat diperlukan untuk merumuskan format penyatuan yang dapat diterima semua pihak. “Kami ingin mendengarkan pandangan para senior dan mantan ketua KNPI. Mereka adalah bagian dari sejarah perjalanan organisasi ini. Kami berharap para tokoh pemuda dapat menjadi perekat dan penengah dalam proses penyatuan KNPI di Sulawesi Tenggara,” katanya.
Setelah tahapan konsolidasi dan silaturahmi selesai dilakukan, KNPI Sultra akan menyusun skema penyatuan yang disepakati bersama. Beberapa opsi yang mengemuka dalam diskusi antara lain pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) bersama, forum rekonsiliasi kepemudaan, maupun mekanisme lain yang dianggap mampu menghadirkan kepengurusan yang legitimate dan diterima seluruh pihak.
Pria yang juga bekerja sebagai legal hukum Matacon Group ini menambahkan, yang terpenting bukanlah mekanismenya, tetapi komitmen bersama untuk mengakhiri perpecahan dan mengembalikan marwah KNPI sebagai wadah pemersatu pemuda. “Kita tidak ingin terjebak pada perdebatan kelompok atau kepentingan sesaat. Yang harus menjadi tujuan utama adalah bagaimana KNPI kembali bersatu dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi daerah,” tandasnya.

Dalam forum tersebut, mantan Ketua KNPI Sultra, Zuumi Kudus, menyambut baik inisiatif yang dilakukan pengurus KNPI Sultra. Ia menilai penyatuan organisasi merupakan kebutuhan mendesak agar pemuda kembali memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah. Menurut mantan Ketua KNPI Sultra Periode 2007-2012 ini, KNPI pernah menjadi organisasi yang sangat diperhitungkan oleh pemerintah karena mampu menghadirkan gagasan, kritik, dan solusi terhadap berbagai persoalan daerah. Namun kondisi tersebut perlahan memudar ketika organisasi terpecah dan kehilangan fokus terhadap agenda perjuangan kepemudaan. “Sudah saatnya KNPI kembali bersatu. Kita harus mengembalikan marwah dan kehormatan organisasi ini sebagai representasi pemuda Sulawesi Tenggara. Jika pemuda bersatu, maka suara KNPI akan kembali didengar dan diperhitungkan oleh pemerintah,” ujarnya.
Ia berharap wacana penyatuan organisasi KNPI ini tidak hanya berhenti pada tataran kepengurusan di daerah, tetapi sasarannya adalah bagaimana penyatuan secara nasional DPP KNPI. Sebagaimana dalam AD/ART organisasi, bahwa KNPI sebagai kawah candradimuka satu-satunya tempat berhimpunnya seluruh OKP baik tingkat nasional hingga daerah. “Sesuai kaidah Organisasi dalam AD/ART itu ada tiga yakni kesinambungan, pengakuan pemerintah, dan eksistensi. Kesinambungan maksudnya estafet kepemimpinan secara resmi sah sesuai organisasi. Kemudian pengakuan pemerintah itu secara administrasi pemerintahan KNPi adalah satu-satunya organisasi kepemudaan yang menghimpun seluruh OKP yang diakui pemerintah sejak 1973 yang dibuktikan dengan penandatananan fakta integritas seluruh OKP. Sementara eksistensi yang dimaksud adalah keberadaan organisasi yang terus eksis dalam mengawal arah dan tujuan pembangunan bangsa secara umum,”jelasnya.
Menurutnya, KNPI harus selalu hadir dalam setiap diskursus kebijakan publik dan menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam merumuskan arah pembangunan Sulawesi Tenggara. “Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton. KNPI harus mengambil peran dalam setiap kebijakan pembangunan daerah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan. Kita harus menjadi bagian dari solusi dan menghadirkan gagasan-gagasan yang konstruktif untuk kemajuan Sulawesi Tenggara,” kata Zuumi.
Ia juga mengajak seluruh OKP dan elemen pemuda untuk mengedepankan semangat persaudaraan dan kebersamaan dalam proses penyatuan KNPI. “Perbedaan adalah hal yang biasa dalam organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana kita menempatkan kepentingan pemuda dan daerah di atas kepentingan kelompok. Jika itu bisa dilakukan, saya yakin KNPI Sultra akan kembali menjadi kekuatan besar yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Rembuk ide yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut menghasilkan kesepahaman bahwa penyatuan KNPI Sultra harus dilakukan melalui proses dialog, konsolidasi, dan rekonsiliasi yang melibatkan seluruh unsur kepemudaan. Selanjutnya wacana pelaksanaan Musda dapat dilakukan secara bersama seluruh keterwakilan lapisan organisasi pemuda di Sultra. Dengan persatuan yang kuat, KNPI diharapkan kembali menjadi mitra strategis pemerintah serta motor penggerak pembangunan daerah demi terwujudnya Sulawesi Tenggara yang lebih maju dan berdaya saing. (red)















