Oleh : Muliadi, S.ST.
Konawe Selatan, SastraNews.id – Di ufuk timur Jazirah Daratan Tenggara Konawe, di mana matahari pertama kali menyapa bumi Konawe, terukir sebuah kisah tentang baja yang ditempa dalam api perlawanan. Di sanalah, di puncak-puncak bukit Ulu Windo yang kini kita kenal sebagai bagian dari Konawe Selatan, berdiri kokoh Benteng LAPADI, sebuah monumen bisu tentang harga diri dan kedaulatan yang tak sudi digadaikan.
Palagan Keberanian Lapadi bin Lamanangi
Alkisah, pada masa di mana awan mendung kolonialisme Belanda mencoba mencengkeram nusantara, bumi Konawe tidak diam. Dari rahim tanah ini, lahirlah seorang putra terbaik, seorang panglima (Kapita/Tamalaki) yang namanya digetarkan oleh angin pegunungan dan dibisikkan oleh arus sungai: LAPADI bin LAMANANGI.
Bagi Lapadi, Dataran Konawe bukanlah sekadar hamparan tanah, bukit, dan rawa. Ia adalah tumpah darah, tanah suci warisan leluhur yang di setiap jengkalnya tertanam doa dan harapan generasi mendatang. Ketika serdadu Kompeni dengan angkuh melangkah masuk, membawa hukum baru yang menindas dan pajak yang mencekik, nurani Lapadi memberontak. Baginya, tunduk bukanlah pilihan. Memilih damai di bawah telapak kaki penjajah adalah pengkhianatan terbesar terhadap Kalo Sara.
Maka, ia himpun para ksatria (Tamalaki) terbaik, pemuda-pemuda gagah berani yang tak gentar menghadapi desing peluru dan kilatan bayonet. Bersama-sama, mereka membangun dan mengokohkan Benteng Lapadi. Dari batu demi batu, kayu demi kayu, benteng itu menjelma menjadi simbol perlawanan yang liat. Di sinilah, semangat perjuangan yang gigih dan berani itu meledak.
”Maju pantang mundur! Tanah ini adalah hidup kita. Kebebasan adalah takdir kita!” teriak Lapadi di tengah gemuruh pertempuran.
Kolonial Belanda meremehkan tekad mereka. Mereka datang dengan artileri modern, tetapi mereka berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih kuat: cinta tanah air dan keyakinan akan kebenaran. Lapadi bin Lamanangi memimpin dengan strategi yang cerdik, memanfaatkan setiap jengkal tanah, setiap batang pohon, dan setiap kabut pagi untuk menjebak musuh.
Dia tidak hanya bertempur dengan senjata, tetapi dengan jiwanya. Keberaniannya melegenda. Dia adalah perisai bagi rakyatnya dan pedang (Ta’awu) bagi musuhnya. Setiap serangan Belanda dipatahkan oleh keberanian tak kenal takut para pejuang Benteng Lapadi. Mereka membuktikan bahwa sekelompok pejuang yang bersatu dan berani, meski dengan senjata seadanya, mampu mengguncang imperium kolonial yang perkasa.
Meski akhirnya pertempuran itu berakhir, api perjuangan yang dinyalakan oleh Lapadi bin Lamanangi tidak pernah benar-benar padam. Darah yang tumpah di tanah Konawe menjadi benih-benih kebebasan yang kelak akan dipanen oleh anak cucu mereka. Semangat Benteng Lapadi menjadi warisan tak ternilai, sebuah wejangan bisu tentang pentingnya kedaulatan, martabat, dan persatuan.
Semangat Hari Jadi Konawe Selatan ke-23 (Tahun 2026)
Dua puluh tiga tahun telah berlalu sejak fajar otonomi daerah menyingsing, memisahkan diri untuk mandiri, dan menancapkan tonggak sejarah Kabupaten Konawe Selatan. Dari wilayah yang luas dan penuh tantangan, kini ia tumbuh menjadi rumah yang mandiri, sejahtera, dan religius.
Namun, di tengah kemajuan zaman dan gemerlap pembangunan tahun 2026 ini, apakah api perjuangan Benteng Lapadi masih menyala?
Hari Jadi Kabupaten Konawe Selatan yang ke-23 bukanlah sekadar perayaan seremonial. Ia adalah momen refleksi untuk merawat kembali ‘Kalo Sara’ di dada kita: persatuan dan persaudaraan.
Semangat Lapadi bin Lamanangi kini harus kita transformasi.
- Dulu, pejuang melawan penjajah asing dengan senjata.
- Kini, kita melawan kemiskinan, ketertinggalan, dan korupsi dengan kecerdasan, integritas, dan inovasi.
Menjaga tanah tumpah darah di era modern ini berarti:
- ”Membangun dengan Hati”: Tidak sekadar mendirikan gedung beton, tetapi memastikan setiap kebijakan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat, dari pesisir hingga ke pelosok pegunungan.
- “Merawat Keberagaman”: Sebagaimana Pejuang Lapadi menerima berbagai etnis/suku dan latar belakang di bawah satu komando perlawanan, Konawe Selatan yang maju adalah Konawe Selatan yang menghargai setiap perbedaan sebagai kekayaan.
- “Mandiri dalam Ekonomi”: Memanfaatkan potensi pertanian, perikanan, dan pariwisata untuk menjadikan Konawe Selatan sebagai pilar ekonomi di Sulawesi Tenggara.
- “Integritas dan Keberanian”: Memiliki keberanian moral untuk memimpin dengan jujur dan adil, sebagaimana Lapadi bin Lamanangi berani menghadapi musuh demi rakyatnya.
”Di mana Benteng Lapadi berdiri, di situ keberanian tak pernah mati. Di mana Konawe Selatan dibangun, di situ harapan harus selalu abadi.”
Di Hari Jadi ke-23 tahun 2026 Kab. Konawe Selatan ini, mari kita serukan kembali semangat para pendahulu kita. Mari kita jadikan Konawe Selatan yang Kita Banggakan sebagai benteng modern kita. Benteng melawan keputusasaan, benteng melawan perpecahan, dan benteng untuk mewujudkan mimpi-mimpi luhur para pendiri daerah ini.
Dengan restu para leluhur dan semangat perjuangan Lapadi bin Lamanangi yang terus mengalir dalam darah kita, Konawe Selatan akan terus melangkah maju. Mandiri, bermartabat, dan bersinar dari Gerbang Sultra untuk Indonesia.
Dirgahayu Kabupaten Konawe Selatan yang ke-23!
Momele! Momele! Konawe Selatan!
Salam Hormat,
Mr. BeaM alias Muliadi















