Oleh :Muh Iksan Saranani (Ketua Forum Keberagaman Nusantara Sulawesi Tenggara)
Kendari, SastraNews.id – Sejak awal peradaban, sejarah telah berulang-ulang mengajarkan satu kebenaran sederhana tetapi keras,bangsa yang bersatu akan tumbuh, bang yang terpecah akan tumbang.dari Padang pasir tempat nabi Muhammad Saw,menata masyarakat madina,dari dataran Tiongkok ketika sun Tzu menuliskan strategi peperanganya, hingga kerajaan-kerajaan besar Eropa dan Nusantara, semuanya menggemakan pesan yang sama.
Persatuan adalah fondasi kejayaan, sedangkan perpecahan adalah awal kehancuran.
Mahatma Gandhi pernah mengingatkan,”persatuan bila di bangun atas dasar keadilan dan kebenaran, lebih kuat dari pada kekuatan senjata.”
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa perpecahan tidak selalu datang dari luar.seringkali dia disusupkan secara halus,tak terlihat, merayap seperti asap dibalik tirai.”invisible hand,”kekuatan Tampa wajah yang bekerja melalui provokasi, manipulasi informasi,dan rekayasa sosial, selalu mencari cara untuk membuat Bangsa saling mencurigai, saling membenci, bahkan saling meniadakan.
Di era moderenisasi,tak perlu lagi meriam untuk meruntuhkan sebuah negara, cukup Arsenal hoaks, permainan algoritma,dan pragmentasi digital yang merusak kepercayaan sosial.inilah Medan perang baru, perang yang tidak terlihat tatapi nyata.
Indonesia dalam bayang-bayang sama.
Indonesia dengan 17.000 ribu pulau,13.000 ribu suku bangsa, ratusan bahasa,dan tradisi yang tak terhitung, adalah anugerah sekaligus ujian.sebagaiaamana di ungkap Nelson Mandela.
“Keberagaman adalah kekuatan,bukan ancaman, bila kita memilih untuk melihatnya sebagai kekayaan.”
Namun di tengah badai globalisasi, keberagaman ini dapat menjadi retakan bila tidak dirawat.modernisasi yang serba digital membawa pulang kemajuan, tetapi juga menimbulkan kegaduhan, hilangnya orientasi budaya, terputusnya jembatan antargenerasi, polarisasi politik,dan semakin kuatnya infiltrasi invisible hand yang MENGGADU kelompok satu dengan lainnya.
Globalisasi mempercepat segalanya, informasi,ide,ambisi, tetapi tidak mempercepat kebijaksanaan.disinilah Bangsa membutuhkan ruang, wadah,dan kesadaran kolektif untuk menjaga identitas dan keutuhan.
FKN sebagai kapal Nabi Nuh di tengah badai perpecahan.
Di tengah konteks itulah, forum keberagaman Nusantara(FKN) yang digagas oleh yang mulai YM.TUANKU ARIF RAHMANSYAH MARBUN TUANKU ALAMSYAH dan dideklarasikan pada tgl 27-oktober 2025 di Ternate, hadir bukan sekedar sebagai forum, tetapi sebagai kapal moral.
Metafora “kapal nabi Nuh” menemukan tempatnya:
Kapal yang tidak hanya membawa jasad, tetapi membawa nilai, tidak hanya menjemput keselamatan, tetapi juga menanamkan harapan baru.
Forum keberagaman Nusantara(FKN) tidak sekedar wadah silaturahmi.ia adalah upaya strategis untuk:
Merawat keberagaman, memperkokoh persatuan, membangun jembatan antara agama, antara suku, dan antara generasi, sekaligus memagari masyarakat dari infiltrasi kekuatan-kekuatan yang bekerja dalam sunyi.
Forum keberagaman Nusantara(FKN) mencoba memastikan agar Indonesia tidak mengulangi luka-luka lama dan tidak terjebak dalam jebakan yang sama.
Generasi z- Ombak yang membutuhkan nilai.
Dominasi generasi z,hari ini adalah realitas besar mereka progresif, cepat,serba digital, terbuka, sebuah energi besar yang bila di arahan dengan tepat, mampu mendorong bangsa melesat maju.tetapi sebagai mana di tegaskan oleh Johan f.kennedy,”generasi baru tidak bisa hidup hanya dengan warisan, mereka membutuhkan tantangan.”
Seperti kata R.a. Wiranatakusumah, tokoh Sunda sepanjang hidupnya menjaga harmoni antara adat, agama, dan negara.(Saya kutip)
















