Konawe Utara, Sastranews.id – Kemandirian masyarakat tidak tumbuh dalam semalam. Ia berawal dari kesempatan untuk belajar, dukungan untuk berkembang, dan keberanian mengolah potensi yang ada di sekitar. Semangat itulah yang tergambar dari perjalanan Ibnu Hajar, peserta Program Mandiri Pangan PT ANTAM Tbk UBPN Konawe Utara, yang kini mengembangkan budidaya cabai merah di lahan seluas 1.500 meter persegi di Desa Mowundo, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Berawal dari menanam sayuran di pekarangan rumah, Ibnu perlahan memperluas usahanya. Perkembangan tersebut menjadi salah satu gambaran upaya ANTAM dalam mendorong masyarakat mengelola potensi pertanian lokal melalui pendampingan, peningkatan pengetahuan, dan dukungan sarana produksi.
Sebelum mengembangkan lahan cabai, Ibnu telah menanam berbagai sayuran untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memasarkannya kepada warga sekitar. Namun, mengembangkan pertanian dalam skala lebih besar bukan perkara mudah. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa keterbatasan pengetahuan tentang penanganan hama, penyakit, dan nutrisi tanaman dapat memengaruhi hasil budidaya. Melalui Program Mandiri Pangan, Ibnu memperoleh kesempatan untuk mempelajari teknik budidaya yang lebih baik dan bertukar pengalaman dengan sesama peserta. Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan dalam pengembangan kebun cabainya, mulai dari persiapan lahan hingga pemeliharaan tanaman.
Dukungan ANTAM juga hadir melalui penyediaan cultivator, alat pengolah tanah yang membantu Ibnu bersama kelompok taninya mengerjakan lahan dengan lebih efisien. Pengolahan lahan berukuran 50 x 30 meter yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga sepuluh hari secara manual, kini dapat diselesaikan dalam sekitar dua hari. Bagi petani, efisiensi waktu dan tenaga menjadi hal penting untuk menjaga keberlanjutan usaha. Terlebih, lahan yang dikelola Ibnu memiliki kontur cukup curam, sehingga proses pengolahan tanah dan pengaturan air membutuhkan perhatian ekstra.
Meski menghadapi tantangan cuaca panas, kemarau, dan tanaman yang tidak seluruhnya bertahan, Ibnu terus menjalani proses budidaya sambil memperbaiki teknik yang digunakan. Baginya, keberhasilan bertani tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh kemauan untuk belajar dari setiap kendala. “Jangan langsung melihat hasilnya. Coba lihat prosesnya, termasuk ketika cabai gagal terkena hama dan lain-lain. Kebanyakan orang hanya melihat hasil akhirnya, padahal ada proses yang dilalui. Menurut saya, yang dibutuhkan itu ketekunan dan kesabaran,” ungkap Ibnu.
Hasil dari proses tersebut mulai terlihat. Hingga panen keempat pada 20 Oktober 2026, kebun cabai Ibnu menghasilkan sekitar 110 kilogram dari empat kali panen. Hasilnya dipasarkan kepada pedagang, pembeli langsung, serta katering perusahaan di sekitar wilayah operasional. Pembeli dari luar Desa Mowundo, termasuk Asera dan Lasolo, turut menjadi bagian dari jangkauan pemasarannya. Capaian ini tidak hanya menunjukkan perkembangan usaha seorang petani, tetapi juga menggambarkan peluang ekonomi yang dapat tumbuh ketika masyarakat memiliki pengetahuan, sarana, dan akses pasar yang mendukung.
Ibnu melihat kebutuhan masyarakat terhadap cabai dan sayuran masih terbuka lebar. Karena itu, ia berharap semakin banyak warga tertarik mengembangkan pertanian dan memiliki kesempatan untuk belajar. Ia bahkan bercita-cita menjadikan Desa Mowundo sebagai salah satu sentra produksi pangan dan sayuran di Kecamatan Molawe. Harapan tersebut sejalan dengan pendekatan pemberdayaan yang dijalankan ANTAM melalui Program Mandiri Pangan, yakni mendorong masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengembangkan potensi daerahnya.
Southeast Sulawesi Region, CSR ER Sub Division Head PT ANTAM Tbk, Muhammad Rusdan, mengapresiasi ketekunan Ibnu bersama kelompok taninya dalam mengembangkan usaha pertanian. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya melalui penyediaan bantuan sarana. Penguatan kapasitas, pendampingan, serta kemauan masyarakat untuk terus belajar juga menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian.
“ANTAM hadir sebagai pendukung melalui penyediaan sarana dan pendampingan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengembangkan usahanya. Kami berharap semangat Pak Ibnu dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk terus belajar, mengembangkan potensi pertanian, dan membangun kemandirian,” ujar Rusdan.
Ia menambahkan, ANTAM berkomitmen mendukung penguatan kapasitas petani dan kelompok tani melalui pendampingan berkelanjutan agar manfaat Program Mandiri Pangan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Bagi ANTAM, upaya pemberdayaan tidak berhenti pada bantuan yang diberikan, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk melanjutkan dan mengembangkan usaha secara mandiri. Pengetahuan yang diperoleh, sarana yang dimanfaatkan, serta pengalaman menghadapi tantangan diharapkan menjadi modal bagi petani untuk terus bertumbuh.
Kisah Ibnu Hajar menjadi pengingat bahwa potensi desa dapat berkembang ketika masyarakat memperoleh kesempatan dan dukungan yang tepat. Dari pekarangan rumah hingga lahan cabai yang lebih luas, langkahnya mencerminkan bagaimana proses belajar dan ketekunan dapat membuka peluang baru bagi usaha pertanian. Melalui Program Mandiri Pangan, ANTAM berharap semakin banyak masyarakat di Konawe Utara mampu mengoptimalkan potensi pertanian lokal, memperkuat kemandirian pangan, dan membangun sumber penghidupan yang produktif serta berkelanjutan. (***)
















