Morowali, SastraNews.id – Langkah kaki puluhan pemuda dari Desa Sambalagi dan Desa Were’ea, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, kini tak lagi sekadar melintasi jalanan pesisir Morowali. Mimpi mereka membubung jauh menembus batas negara, menuju ruang-ruang kelas di Jingmen GEM, Tiongkok.
Langkah berani PT International Green Industrial Park (IGIP) Morowali memberangkatkan putra-putri lingkar kawasan industri ini bukan hanya soal belajar bahasa asing, melainkan pertaruhan besar untuk mengubah peta masa depan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal di tanah kelahiran mereka sendiri.
Langkah terobosan ini memantik apresiasi mendalam dari Tokoh Pemuda Desa Sambalagi, Irfan Mualim. Menurutnya, program pemberdayaan berbasis pendidikan luar negeri ini merupakan gebrakan yang amat transformatif dan menyentuh akar kebutuhan masyarakat sekitar kawasan industri. “Ini adalah gebrakan yang sangat luar biasa. Anak-anak muda kita tidak hanya diberi kesempatan belajar, tetapi ditarik langsung ke pusat-pusat peradaban industri modern,” ujarnya, Sabtu (10/10/2026).
Para pemuda Desa Sambalagi dan Desa Were’ea yang belajar bahasa mandarin ke Cina Selama ini, tantangan utama di wilayah lingkar industri adalah keterbatasan akses skill spesifik yang dibutuhkan oleh perusahaan multinasional. Kehadiran puluhan anak muda yang menimba ilmu langsung di Tiongkok diharapkan menjadi katalisator perubahan. Irfan menaruh harapan besar agar sekembalinya dari Negeri Panda, para peserta program ini mampu membawa ‘efek domino’ positif.

Mereka tidak hanya membawa pulang ijazah atau kemahiran berbahasa Mandarin, tetapi juga pola pikir, disiplin kerja, dan kepercayaan diri tinggi yang dapat menulari pemuda-pemuda lain di Sambalagi dan Were’ea. Kemampuan bahasa Mandarin yang fasih dan pemahaman budaya kerja global secara otomatis memangkas hambatan komunikasi yang selama ini kerap menjadi jurang pemisah antara pekerja lokal dan manajemen investasi.
Hal ini diyakini menjadi passkey atau kunci emas bagi talenta lokal untuk berkarier di PT IGIP Morowali. Ke depan, mereka tidak lagi hanya berada di posisi pekerja teknis tingkat bawah, melainkan berpeluang besar mengisi jabatan-jabatan strategis dan manajerial dalam struktur perusahaan. Melihat besarnya dampak jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat lingkar kawasan, Irfan menekankan, agar investasi sosial PT IGIP ini tidak berhenti sebagai peristiwa sekali jalan. Program pemberdayaan ini diharapkan terus berlanjut ke gelombang-gelombang berikutnya hingga menjadi agenda unggulan korporasi.
Keberlanjutan program ini menjadi bukti nyata komitmen industri hijau PT IGIP dalam tumbuh dan berkembang bersama masyarakat lokal—mewujudkan iklim industri yang inklusif, adil, dan berkesinambungan. (red)















