Kendari, SastraNews.id – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Dewan Pengurus Provinsi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sulawesi Tenggara (Sultra) yang akan digelar pada 5 September 2026, gagasan strategis terkait arah pembangunan daerah kembali mengemuka.
Gagasan itu datang dari salah satu perintis Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) di Sulawesi Tenggara, Andi Muslimin MS, ST., M.PW., IAI. Ia mendorong agar IAI Sultra tidak hanya berperan dalam aspek profesi dan arsitektur, tetapi juga turut melahirkan gagasan kebijakan yang dapat memberi kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Menurut Ketua Bidang Hubungan Kelembagaan IAI Sultra ini, salah satu isu strategis yang perlu didorong IAI Sultra adalah transformasi dan percepatan pembangunan Kawasan Industri Terpadu Manufaktur Kendari.
Gagasan tersebut, kata dia, perlu dibangun melalui kebijakan kolektif antara pemerintah daerah dan kalangan pengusaha sehingga pembangunan kawasan industri tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan sektor ekonomi masyarakat. “IAI Sultra diharapkan dapat mendorong isu dan gagasan kebijakan kolektif pemerintah daerah bersama pengusaha untuk mewujudkan transformasi percepatan pembangunan Kawasan Industri Terpadu Manufaktur Kendari,” ujar Andi Muslimin.

Ia menjelaskan, pembangunan kawasan industri terpadu tersebut diharapkan mampu mendekatkan hasil produksi komoditas masyarakat, khususnya petani dan nelayan, dengan pusat pengolahan sekaligus pasar atau pangsa pasar. Dengan demikian, rantai distribusi komoditas lokal dapat dipangkas, nilai tambah hasil produksi meningkat, dan masyarakat tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Andi menilai, posisi Kendari sangat strategis untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat distribusi bagi kawasan Indonesia Timur. “Bagaimana menjadikan Kendari sebagai Pusat Distribusi Indonesia Timur II, sehingga hasil-hasil produksi dari daerah dapat lebih mudah masuk ke pusat pengolahan dan selanjutnya menjangkau pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Menurutnya, konsep tersebut juga dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat sektor ekonomi produktif masyarakat di tengah perkembangan industri pertambangan yang terus berlangsung di Sulawesi Tenggara. Ia menyebut sektor pertanian, kehutanan, peternakan, perkebunan, budidaya perikanan hingga perikanan tangkap memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan diperluas.
Karena itu, pembangunan kawasan industri dan pusat distribusi harus dirancang dengan pendekatan yang terintegrasi agar perkembangan sektor pertambangan tidak mengesampingkan sektor-sektor ekonomi produktif lainnya. “Lahan pertanian, kehutanan, peternakan, perkebunan, budidaya perikanan dan perikanan tangkap perlu terus dikembangkan dan diperluas. Ini penting agar struktur ekonomi Sultra semakin kuat dan tidak hanya bergantung pada sektor tambang,” katanya.
Andi Muslimin menilai, Kawasan Industri Terpadu Manufaktur Kendari ini adalah bagian dari PSN dalam rangka Swasembada Pangan dan Industrialisasi serta akan menjadi Pusat Distribusi Indonesia Timur II, karena Makassar yg selama ini menjadi pusat distribusi akan bergeser ke tengah Indonesia akan konsentrasi sebagai penyangga utama IKN Nusantara tahun 2028. “Sehingga peran ke timur sangat berpeluang diambil alih Kota Kendari Sultra, hal lain juga karena kita masih memiliki luas lahan pertanian, perkebunan, peternakan dan budi daya perikanan maupun perikanan tangkap yang dapat mendorong produksi komoditi bahan baku industri,”imbuhnya.
Andi Muslimin berharap momentum Musyawarah DPP IAI Sultra dapat menjadi ruang untuk memperkuat kembali peran arsitek dalam pembangunan daerah. Menurutnya, arsitek tidak hanya berbicara mengenai desain bangunan, tetapi juga dapat berkontribusi dalam merumuskan konsep tata ruang, kawasan industri, pusat distribusi, hingga pengembangan wilayah yang berkelanjutan.
Ia berharap IAI Sultra ke depan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dan dunia usaha dalam menghadirkan gagasan pembangunan yang memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Arsitek harus mengambil bagian dalam gagasan besar pembangunan daerah. Kita tidak hanya bicara soal bangunan, tetapi juga bagaimana merancang kawasan dan sistem pembangunan yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” pungkasnya. (red)















